Minggu, 01 November 2009

Perdagangan Bebas dalam Pertemuan APEC di Busan

PERDAGANGAN BEBAS AKAN MENJADI AGENDA UTAMA DALAM PERTEMUAN PUNCAK APEC DI BUSAN BULAN NOVEMBER

Apa yang menjadi kesamaan perdagangan bebas, integrasi ekonomi, tingginya harga minyak dunia, dan terorisme kecuali bahwa semua hal tersebut merupakan tantangan bagi ekonomi global saat ini?

Semua isu tersebut diharapkan akan menjadi agenda utama dari Pertemuan Puncak Kerjasama Ekonomi Asia-Pasifik (APEC – Asia-Pacific Economic Co-operation) di Busan, pada bulan November mendatang. Meskipun demikian, masalah perdagangan bebas tetap akan mendapatkan fokus tersendiri dalam pertemuan puncak tersebut yang akan diadakan selama dua hari pada tanggal 18 dan 19 November 2005.

Menteri Luar Negeri dan Perdagangan Korea Selatan menyebutkan belum lama ini bahwa para pemimpin negara-negara anggota APEC, yang berjumlah 18 negara, akan hadir dalam pertemuan puncak ini. Mereka akan mendiskusikan berbagai cara untuk mempromosikan kesepakatan-kesepakatan perdagangan bebas dan memperkecil jurang antara mereka yang kaya dan miskin.

Dengan memperkuat pentingnya mengatasi berbagai isu perdagangan sebelum pertemuan Organisasi Perdagangan Dunia (WTO – World Trade Organisation) pada bulan Desember mendatang, para pemimpin eksekutif bisnis Asia-Pasifik sebelumnya juga telah meminta agar negara-negara anggota APEC dapat memastikan hasil yang positif dari pembicaraan perdagangan global.

Hyun Jae-hyun, ketua Dewan Penasihat Bisnis APEC (ABAC – APEC Advisory Business Council), mengatakan dia percaya bahwa waktunya telah tiba bagi negara-negara APEC untuk mengambil kepemimpinan agar dapat membawa Agenda Pembangunan Doha sebagai satu akhir yang sukses.

‘Kami meminta para pemimpin APEC untuk menginstruksikan kepada para juru runding mereka agar dapat memberikan fleksibilitas sebesar mungkin sehingga dapat timbul kesepakatan dalam semua modalitas dalam perundingan-perundingan di Konferensi Tingkat Menteri WTO di Hong Kong’, kata Hyun.

Badan perdagangan dunia menargetkan tahun 2006 sebagai tahun dimana negara-negara di dunia dapat mencapai liberalisasi penuh dalam hal perdagangan dan penanaman modal, termasuk di berbagai bidang seperti sektor pertanian, jasa, akses pasar non-pertanian. Banyak pakar yang melihat pertemuan puncak APEC sebagai usaha terakhir untuk mencapai konsensus agar hasil akhir yang sukses dapat terlihat pada KTM Hong Kong mendatang. KTM Hong Kong ini kerap dilihat oleh banyak pihak sebagai bagian penting dari terbentuknya kerangka perdagangan global.

Selama pertemuan menteri energi APEC yang diadakan pada bulan Juni tahun 2004 lalu, mantan Direktur-Jendral (Dirjen) APEC, Supachai Panitchpakdi, memperingatkan bahwa gagalnya Agenda Pembangunan Doha akan menjadi gangguan terhadap perdagangan dunia.

Perdagangan dunia sendiri sesuai dengan tujuan utama APEC yang ingin mempromosikan Tujuan-Tujuan Bogor yang telah ditentukan pada tahun 1994. Tujuan-tujuan tersebut merupakan komitmen bagi negara-negara anggota APEC yang maju untuk meliberalisasi perdagangan dan penanaman modal mereka pada tahun 2010, sedangkan tahun 2020 bagi negara-negara berkembang.

‘Di antara beberapa rekomendasi kami, ABAC meminta agar ekonomi-ekonomi [negara APEC] menghapus semua bentuk subsidi ekspor pertanian dalam jangka waktu lima tahun, menghapus, atau setidaknya menurunkan hambatan perdagangan bagi produk-produk non-pertanian, dan menawarkan liberalisasi sektor jasa yang cukup berarti”, kata Hyun.

Dalam laporan tahun 2005 mereka kepada para pemimpin APEC, ABAC juga meminta adanya reformasi untuk mencapai tujuan-tujuan APEC agar terciptanya integrasi ekonomi dan pembangunan di kawasan Asia-Pasifik. Tujuan-tujuan lainnya termasuk memperkuat sistem keuangan dan pasar surat berharga, memperbaiki kesiapan untuk menanggapi secara efektif harga sektor energi yang semakin tak menentu.

Ketua ABAC mengatakan bahwa dewan bisnis tersebut akan mengusulkan diadopsinya check-list bagi negara-negara anggota APEC untuk memajukan perundingan di tingkat WTO, khususnya dalam sektor jasa keuangan, dan mempromosikan penanaman modal langsung dalam sektor jasa keuangan kawasan ini.

Menurut Hyun, ‘negara-negara anggota ABAC mewakili sekitar setengah dari aliran perdagangan global, sehingga hal ini meletakkan para pemimpin dalam situasi yang unik untuk menunjukkan kepemimpinan mereka dalam perundingan WTO’.

Selain masalah perdagangan, masalah kestabilan keuangan dan memberikan rekomendasi kebijakan dan reformasi yang terfokus pada masalah konservasi energi, masalah penyakit flu burung juga akan menjadi fokus utama dalam pertemuan tersebut.

Ekonomi negara-negara anggota APEC terdiri dari 21 negara, dan terhitung mengambil bagian sebanyak 56 persen dari total produk domestik bruto (PDB) dunia. Keanggotaannya termasuk, Australia, Brunei Darussalam, Kanada, Chile, Republik Rakyat China, Hong Kong, Indonesia, Jepang, Korea Selatan, Malaysia, Meksiko, Selandia Baru, Papua New Guinea, Filipina, Federasi Rusia, Singapura, Taiwan, Thailand, Amerika Serikat, dan Vietnam. (AC)

Sumber:
Yoo Soh-jung, Korea Herald, 19 oktober 2005, pada:
http://www.koreaherald.co.kr/SITE/data/html_dir/2005/10/19/200510190010.asp

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar